Perawatsupri

Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya. Obesitas merupakan suatu keadaan menahun (kronis). Obesitas seringkali dianggap suatu keadaan sementara yang bisa diatasi selama beberapa bulan dengan menjalani diet yang ketat. Ini merupakan anggapan yang keliru. Pengendalian berat badan merupakan suatu usaha jangka panjang. Agar aman dan efektif, setiap program penurunan berat badan harus ditujukan untuk pendekatan jangka panjang.

Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas. Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas.

Perhatian tidak hanya ditujukan kepada jumlah lemak yang ditimbun, tetapi juga kepada lokasi penimbunan lemak tubuh. Pola penyebaran lemak tubuh pada pria dan wanita cenderung berbeda. Wanita cenderung menimbun lemaknya di pinggul dan bokong, sehingga memberikan gambaran seperti buah pir. Sedangkan pada pria biasanya lemak menimbun di sekitar perut, sehingga memberikan gambaran seperti buah apel. Tetapi hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang mutlak, kadang pada beberapa pria tampak seperti buah pir dan beberapa wanita tampak seperti buah apel, terutama setelah masa menopause.

Seseorang yang lemaknya banyak tertimbun di perut mungkin akan lebih mudah mengalami berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas. Mereka memiliki resiko yang lebih tinggi. Gambaran buah pir lebih baik dibandingkan dengan gambaran buah apel.

Untuk membedakan kedua gambaran tersebut, telah ditemukan suatu cara untuk menentukan apakah seseorang berbentuk seperti buah apel atau seperti buah pir, yaitu dengan menghitung rasio pinggang dengan pinggul. Pinggang diukur pada titik yang tersempit, sedangkan pinggul diukur pada titik yang terlebar; lalu ukuran pinggang dibagi dengan ukuran pinggul. Seorang wanita dengan ukuran pinggang 87,5 cm dan ukuran pinggul 115 cm, memiliki rasio pinggang-pinggul sebesar 0,76. Wanita dengan rasio pinggang:pinggul lebih dari 0,8 atau pria dengan rasio pinggang:pinggul lebih dari 1, dikatakan berbentuk apel.

Penyebab Obesitas

Secara ilmiah, obesitas terjadi akibat mengkonsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh. Penyebab terjadinya ketidakseimbangan antara asupan dan pembakaran kalori ini masih belum jelas.

Terjadinya obesitas melibatkan beberapa faktor :

1. Faktor genetik. Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.

2. Faktor lingkungan. Gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai kasus obesitas, tetapi lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, tetapi dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya.

3. Faktor psikis. Apa yang ada di dalam pikiran seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan. Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang negatif. Gangguan ini merupakan masalah yang serius pada banyak wanita muda yang menderita obesitas, dan bisa menimbulkan kesadaran yang berlebihan tentang kegemukannya serta rasa tidak nyaman dalam pergaulan sosial.

Ada dua pola makan abnormal yang bisa menjadi penyebab obesitas yaitu makan dalam jumlah sangat banyak (binge) dan makan di malam hari (sindroma makan pada malam hari). Kedua pola makan ini biasanya dipicu oleh stres dan kekecewaan. Binge mirip dengan bulimia nervosa, dimana seseorang makan dalam jumlah sangat banyak, bedanya pada binge hal ini tidak diikuti dengan memuntahkan kembali apa yang telah dimakan. Sebagai akibatnya kalori yang dikonsumsi sangat banyak. Pada sindroma makan pada malam hari, adalah berkurangnya nafsu makan di pagi hari dan diikuti dengan makan yang berlebihan, agitasi dan insomnia pada malam hari.

4. Faktor kesehatan.

Beberapa penyakit bisa menyebabkan obesitas, diantaranya adalah Hipotiroidisme, Sindroma Cushing, Sindroma Prader-Willi dan Beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak makan.

5. Faktor obat-obatan.

Obat-obat tertentu (misalnya steroid dan beberapa anti-depresi) bisa menyebabkan penambahan berat badan.

6. Faktor perkembangan.

Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh. Penderita obesitas, terutama yang menjadi gemuk pada masa kanak-kanak, bisa memiliki sel lemak sampai 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Jumlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, karena itu penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel.

7. Aktivitas fisik.

Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur. Orang-orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami obesitas.

Gejala obesitas

Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk. Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki). Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit. Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki.

Komplikasi

Obesitas bukan hanya tidak enak dipandang mata tetapi merupakan dilema kesehatan yang mengerikan. Obesitas secara langsung berbahaya bagi kesehatan seseorang. Obesitas meningkatkan resiko terjadinya sejumlah penyakit menahun seperti : Diabetes tipe 2 (timbul pada masa dewasa), Tekanan darah tinggi (hipertensi), Stroke, Serangan jantung (infark miokardium), Gagal jantung, Kanker (jenis kanker tertentu, misalnya kanker prostat dan kanker usus besar), Batu kandung empedu dan batu kandung kemih, Gout dan artritis gout, Osteoartritis, Tidur apneu (kegagalan untuk bernafas secara normal ketika sedang tidur, menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam darah), Sindroma Pickwickian (obesitas disertai wajah kemerahan, underventilasi dan ngantuk).

Diagnosa

Dua cara berikut lebih sederhana dan tidak rumit:

1. Jangka kulit, ketebalan lipatan kulit di beberapa bagian tubuh diukur dengan jangka (suatu alat terbuat dari logam yang menyerupai forseps).

2. Bioelectric impedance analysis (analisa tahanan bioelektrik), penderita berdiri diatas skala khusus dan sejumlah arus listrik yang tidak berbahaya dialirkan ke seluruh tubuh lalu dianalisa. Pemeriksaan tersebut bisa memberikan hasil yang tidak tepat jika tidak dilakukan oleh tenaga ahli.

Tabel berat badan-tinggi badan

Tabel ini telah digunakan sejak lama untuk menentukan apakah seseorang mengalami kelebihan berat badan. Tabel biasanya memiliki suatu kisaran berat badan untuk tinggi badan tertentu. Permasalahan yang timbul adalah bahwa kita tidak tahu mana tabel yang terbaik yang harus digunakan.

Banyak tabel yang bisa digunakan, dengan berbagai kisaran berat badan yang berbeda. Beberapa tabel menyertakan ukuran kerangka, umur dan jenis kelamin, tabel yang lainnya tidak. Kekurangan dari tabel ini adalah tabel tidak membedakan antara kelebihan lemak dan kelebihan otot. Dilihat dari tabel, seseorang yang sangat berotot bisa tampak gemuk, padahal sesungguhnya tidak.

Body Mass Index (BMI) :

BMI merupakan suatu pengukuran yang menghubungkan (membandingkan) berat badan dengan tinggi badan. BMI merupakan rumus matematika dimana berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan tinggi badan (dalam meter) pangkat dua. Seseorang dikatakan mengalami obesitas jika memiliki nilai BMI sebesar 30 atau lebih.

Penanganan

Pembatasan asupan kalori dan peningkatan aktivitas fisik merupakan komponen yang paling penting dalam pengaturan berat badan. Kedua komponen ini juga penting dalam mempertahankan berat badan setelah terjadi penurunan berat badan. Harus dilakukan perubahan dalam pola aktivitas fisik dan mulai menjalani kebiasaan makan yang sehat.

Langkah awal dalam mengobati obesitas adalah menaksir lemak tubuh penderita dan resiko kesehatannya dengan cara menghitung BMI. Resiko kesehatan yang berhubungan dengan obesitas akan meningkat sejalan dengan meningkatnya angka BMI :

1. Resiko rendah : BMI < 27

2. Resiko menengah : BMI 27-30

3. Resiko tinggi : BMI 30-35

4. Resiko sangat tinggi : BMI 35-40

5. Resiko sangat sangat tinggi : BMI 40 atau lebih.

Jenis dan beratnya latihan, serta jumlah pembatasan kalori pada setiap penderita berbeda-beda dan obat yang diberikan disesuaikan dengan keadaan penderita.

  1. Penderita dengan resiko kesehatan rendah, menjalani diet sedang (1200-1500 kalori/hari untuk wanita, 1400-2000 kalori/hari untuk pria) disertai dengan olah raga.
  2. Penderita dengan resiko kesehatan menengah, menjalani diet rendah kalori (800-1200 kalori/hari untuk wanita, 1000-1400 kalori/hari untuk pria) disertai olah raga.
  3. Penderita dengan resiko kesehatan tinggi atau sangat tinggi, mendapatkan obat anti-obesitas disertai diet rendah kalori dan olah raga.

Memilih program penurunan berat badan yang aman dan berhasil. Unsur-unsur yang harus dipertimbangkan dalam memilih suatu program penurunan berat badan :

1. Diet harus aman dan memenuhi semua kebutuhan harian yang dianjurkan (vitamin, mineral dan protein). Diet untuk menurunkan berat badan harus rendah kalori.

2. Program penurunan berat badan harus diarahkan kepada penurunan berat badan secara perlahan dan stabil.

  1. Sebelum sebuah program penurunan berat badan dimulai, dilakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.
  2. Program yang diikuti harus meliputi pemeliharaan berat badan setelah penurunan berat badan tercapai. Pemeliharaan berat badan merupakan bagian tersulit dari pengendalian berat badan. Program yang dipilih harus meliputi perubahan kebiasaan makan dan aktivitas fisik yang permanen, untuk merubah gaya hidup yang pada masa lalu menyokong terjadinya penambahan berat badan. Program ini harus menyelenggarakan perubahan perilaku, termasuk pendidikan dalam kebiasaan makan yang sehat dan rencana jangka panjang untuk mengatasi masalah berat badan.

Pada masa lalu, sebagian besar individu dan masyarakat memandang sehat dan sakit sebagai sesuatu Hitam atau Putih. Dimana kesehatan merupakan kondisi kebalikan dari penyakit atau kondisi yang terbebas dari penyakit. Anggapan atau sikap yang sederhana ini tentu dapat diterapkan dengan mudah; akan tetapi mengabaikan adanya rentang sehat-sakit.

Saat ini sehat dipandang dengan perspektif yang lebih luas. Luasnya aspek itu meliputi rasa memiliki kekua­saan, hubungan kasih sayang, semangat hidup, jaringan dukungan sosial yang kuat, rasa berarti dalam hidup, atau tingkat kemandirian tertentu (Haber, 1994).

Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual.

Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).

Definisi WHO tentang sehat mempunyui karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang po­sitif (Edelman dan Mandle. 1994):

1. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.

2. Memandang sehat dengan mengidentifikasi ling­kungan internal dan eksternal.

3. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.

UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.

Dalam pengertian yang paling luas sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektua, spiritual dan penyakit) dan eksternal (lingkungan fisik, social, dan ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya.


Teori model yang terkait dengan konsep sehat sakit

1. Model Rentang Sehat-Sakit (Neuman)

Menurut Neuman (1990): ”sehat dalam suatu rentang merupakan tingkat kesejahteraan klien pada waktu tertentu , yang terdapat dalam rentang dan kondisi sejahtera yang optimal , dengan energi yang paling maksimum, sampai kondisi kematian yang menandakan habisnya energi total”

Jadi menurut model ini sehat adalah keadaan dinamis yang berubah secara terus menerus sesuai dengan adaptasi individu terhadap berbagai perubahan pada lingkungan internal dan eksternalnya untuk mempertahankan keadaan fisik, emosional, inteletual, sosial, perkembangan, dan spiritual yang sehat.

Sedangkan Sakit merupakan proses dimana fungsi individu dalam satu atau lebih dimensi yang ada mengalami perubahan atau penurunan bila dibandingkan dengan kondisi individu sebelumnya.

Karena sehat dan sakit merupakan kualitas yang relatif dan mempunyai tingkatan sehingga akan lebih akurat jika ditentukan seseuai titik-titik tertentu pada skala Rentang Sehat-Sakit.

Kematian

Prematur

Kesejahteraan, Tingkat Tinggi

Model Tindakan

Model sejahtera

Ketidakmampuan

Gejala

Tanda

Kesadaran

pendidikan

Pertumbuhan

Dengan model ini perawat dapat menentukan tingkat kesehatan klien sesuai dengan rentang sehat-sakitnya. Sehingga faktor resiko klien yang merupakan merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan dalam mengidentifikasi tingkat kesehatan klien. Faktor-faktor resiko itu meliputi variabel genetik dan psikologis.

Kekurangan dari model ini adalah sulitnya menentukan tingkat kesehatan klien sesuai dengan titik tertentu yang ada diantara dua titik ekstrim pada rentang itu (Kesejahteraan Tingkat Tinggi – Kematian). Misalnya: apakah seseorang yang mengalami fraktur kaki tapi ia mampu melakukan adaptasi dengan keterbatasan mobilitas, dianggap kurang sehat atau lebih sehat dibandingkan dengan orang yang mempunyai fisik sehat tapi mengalami depresi berat setelah kematian pasangannya.

Model ini efektif jika digunakan untuk membandingkan tingkat kesejahteraan saat ini dengan tingkat kesehatan sebelumnya. Sehingga bermanfaat bagi perawat dalam menentukan tujuan pencapaian tingkat kesehatan yang lebih baik dimasa yang akan datang.

2. Model Kesejahteraan Tingkat Tinggi (Dunn)

Model yang dikembangkan oleh Dunn (1977) ini berorientasi pada cara memaksimalkan potensi sehat pada individu melalui perubahan perilaku.

Pada pendekatn model ini perawat melakukan intervnsi keperawatan yang dapat membantu klien mengubah perilaku tertentu yang mengandung resiko tinggi terhadap kesehatan

Model ini berhasil diterapkan untuk perawatan lansia, dan juga digunakan dalam keperawatan keluarga maupun komunitas.


3. Model Agen-Pejamu-Lingkungan(Leavell at all.)

Menurut pendekatan model ini tingkat sehat dan sakit individu atau kelompok ditentukan oleh hubungan dinamis antara Agen, Pejamu, dan Lingkungan

Pejamu

Lingkungan

Agen

Agen :Berbagai faktor internal-eksternal yang dengan atau tanpanya dapat menyebabkan terjadinya penyakit atau sakit. Agen ini bisa bersifat biologis, kimia, fisik, mekanis, atau psikososial.

à jadi Agen ini bisa berupa yang merugikan kesehatan (bakteri, stress) atau yang meningkatkan kesehatan (nutrisi, dll).

Pejamu: Sesorang atau sekelompok orang yang rentan terhadap penyakit/sakit tertentu.

Faktor pejamu antara lain: situasi atau kondisi fisik dan psikososoial yang menyebabkan seseorang yang beresiko menjadi sakit.

Misalnya: Riwayat keluarga, usia, gaya hidup dll.

Lingkungan: seluruh faktor yang ada diluar pejamu.

· Lingkungan fisik: tingkat ekonomi, iklim, kondisi tempat tinggal, penerangan, kebisingan

· Lingkungan sosial: Hal-hal yang berkaitan dengan interaksi sosial, misalnys: stress, konflik, kesulitan ekonomi, krisis hidup.

Model ini menyatakan bahwa sehat dan sakit ditentukan oleh interaksi yang dinamis dari ketiga variabel tersebut. Menurut Berne et al (1990) respon dapat meningkatkan kesehatan atau yang dapat merusak kesehatan berasal dari interaksi antara seseorang atau sekelompok orang dengan lingkungannya.

Selain dalam keperawatan komunitas model ini juga dikembangkan dalam teori umum tentang berbagai penyebab penyakit.

4. Model Keyakinan-Kesehatan

Model Keyakinan-Kesehatan menurut Rosenstoch (1974) dan Becker dan Maiman (1975) menyatakan hubungan antara keyakinan seseorang dengan perilaku yang ditampilkan.

Model ini memberikan cara bagaimana klien akan berprilaku sehubungan dengan kesehatan mereka dan bagaimana mereka mematuhi terapi kesehatan yang diberikan.

Terdapat tiga komponen dari model Keyakinan-Kesehatan antara lain:

a. Persepsi Individu tentang kerentanan dirinya terhadap suatu penyakit.

Misal: seorang klien perlu mengenal adanya pernyakit koroner melalui riwayat keluarganya, apalagi kemudian ada keluarganya yang meninggal maka klien mungkin merasakan resiko mengalami penyakit jantung.

b. Persepsi Individu terhadap keseriusan penyakit tertentu.

Dipengaruhi oleh variabel demografi dan sosiopsikologis, perasaan terancam oleh penyakit, anjuran untuk bertindak (misal: kampanye media massa, anjuran keluarga atau dokter dll)

c. Persepsi Individu tentang manfaat yang diperoleh dari tindakan yang diambil.

Seseorang mungkin mengambil tindakan preventif, dengan mengubah gaya hidup, meningkatkan kepatuhan terhadap terapi medis, atau mencari pengobatan medis.

Model ini membantu perawat memahami berbagai faktor yang dapat mempengaruhi persepsi, keyakinan, dan perilaku klien, serta membantu perawat membuat rencana perawatan yang paling efektif untuk membantu klien, memelihara dan mengembalikan kesehatan serta mencegah terjadiny penyakit.

Persepsi Individual

Faktor-Faktor Modifikasi

Tindakan Yang Mungkin

Variabel Demografik

Variabel Sosiofisiologis

KEUNTUNGAN tind Prev

BARIER thd tindakan

Kemungkinan Untuk

BERTINDAK

ANCAMAN

Yang dirasakan

KERENTANAN

Yang dirasakan

KESERIUSAN

Yang dirasakan

PETUNJUK

Untuk bertindak

· Kampanye media

· Saran Dokter

· Penyakit keluatga

5. Model Peningkatan-Kesehatan (Pender)

Dikemukakan oleh Pender (1982,1993,1996) yang dibuat untuk menjadi sebuah model yang menyeimbangkan dengan model perlindungan kesehatan.

Fokus dari model ini adalah menjelaskan alasan keterlibatan klien dalam aktivitas kesehatan (kognitif-persepsi dan faktor pengubah).

Faktor Kognisi-Persepsi

Faktor Pengubah

Partisipasi dlm Perilaku Kesehatan

· Kepentingan kesehatan

· Kontrol kesehatan y dirasakan

· Kesembuhan y dirasakan

· Definisi kesehatan

· Status kesehatan y dirasakan

· Keuntungan perilaku peningkatan kesehatan

· Barier terhadap perilaku peningkatan-kesehatan y dirasakan

· Karakteristik Demografik

· Karakteristik Biologik

· Pengaruh Interpersonal

· Faktor Situasional

· Faktor perilaku

Kemungkinan memiliki perilaku peningkatan-kesehatan

Petunjuk untuk Tindakan

Berdasarkan gambar diatas Model ini dapat:

o Mengidentifikasi berbagai faktor (demografik, sosial) yang dapat meningkatkan atau menurunkan partisifasi untuk meningkatkan kesehatan.

o Mengatur berbagai tanda kedalam sebuah pola untuk menjelaskan kemungkinan munculnya partsisipasi klien dalam perilaku peningkatan kesehatan.

SAKIT DAN PERILAKU SAKIT

Sakit adalah keadaan dimana fisik, emosional, intelektual, sosial, perkembangan, atau seseorang berkurang atau terganggu, bukan hanya keadaan terjadinya proses penyakit.

Oleh karena itu sakit tidak sama dengan penyakit. Sebagai contoh klien dengan Leukemia yang sedang menjalani pengobatan mungkin akan mampu berfungsi seperti biasanya, sedangkan klien lain dengan kanker payudara yang sedang mempersiapkan diri untuk menjalanaio operasi mungkin akan merasakan akibatnya pada dimensi lain, selain dimensi fisik.

Perilaku sakit merupakan perilaku orang sakit yang meliputi: cara seseorang memantau tubuhnya; mendefinisikan dan menginterpretasikan gejala yang dialami; melakukan upaya penyembuhan; dan penggunaan sistem pelayanan kesehatan.

Seorang individu yang merasa dirinya sedang sakit perilaku sakit bisa berfungsi sebagai mekanisme koping.

TAHAP-TAHAP PERILAKU SAKIT

Tahap I (Mengalami Gejala)

o Pada tahap ini pasien menyadari bahwa ”ada sesuatu yang salah ”

o Mereka mengenali sensasi atau keterbatasan fungsi fisik tetapi belum menduga adanya diagnosa tertentu.

o Persepsi individu terhadap suatu gejala meliputi: (a) kesadaran terhadap perubahan fisik (nyeri, benjolan, dll); (b) evaluasi terhadap perubahan yang terjadi dan memutuskan apakah hal tersebut merupakan suatu gejala penyakit; (c) respon emosional.

o Jika gejala itu dianggap merupakan suatu gejal penyakit dan dapat mengancam kehidupannya maka ia akan segera mencari pertolongan.

Tahap II (Asumsi Tentang Peran Sakit)

o Terjadi jika gejala menetap atau semakin berat

o Orang yang sakit akan melakukan konfirmasi kepada keluarga, orang terdekat atau kelompok sosialnya bahwa ia benar-benar sakit sehingga harus diistirahatkan dari kewajiban normalnya dan dari harapan terhadap perannya.

o Menimbulkan perubahan emosional spt : menarik diri/depresi, dan juga perubahan fisik. Perubahan emosional yang terjadi bisa kompleks atau sederhana tergantung beratnya penyakit, tingkat ketidakmampuan, dan perkiraan lama sakit.

o Seseorang awalnya menyangkal pentingnya intervensi dari pelayanan kesehatan, sehingga ia menunda kontak dengan sistem pelayanan kesehatan à akan tetapi jika gejala itu menetap dan semakin memberat maka ia akan segera melakukan kontak dengan sistem pelayanan kesehatan dan berubah menjadi seorang klien.

Tahap III (Kontak dengan Pelayanan Kesehatan)

o Pada tahap ini klien mencari kepastian penyakit dan pengobatan dari seorang ahli, mencari penjelasan mengenai gejala yang dirasakan, penyebab penyakit, dan implikasi penyakit terhadap kesehatan dimasa yang akan datang

o Profesi kesehatan mungkin akan menentukan bahwa mereka tidak menderita suatu penyakit atau justru menyatakan jika mereka menderita penyakit yang bisa mengancam kehidupannya. à klien bisa menerima atau menyangkal diagnosa tersebut.

o Bila klien menerima diagnosa mereka akan mematuhi rencan pengobatan yang telah ditentukan, akan tetapi jika menyangkal mereka mungkin akan mencari sistem pelayanan kesehatan lain, atau berkonsultasi dengan beberapa pemberi pelayanan kesehatan lain sampai mereka menemukan orang yang membuat diagnosa sesuai dengan keinginannya atau sampai mereka menerima diagnosa awal yang telah ditetapkan.

o Klien yang merasa sakit, tapi dinyatakan sehat oleh profesi kesehatan, mungkin ia akan mengunjungi profesi kesehatan lain sampai ia memperoleh diagnosa yang diinginkan

o Klien yang sejak awal didiagnosa penyakit tertentu, terutama yang mengancam kelangsungan hidup, ia akan mencari profesi kesehatan lain untuk meyakinkan bahwa kesehatan atau kehidupan mereka tidak terancam. Misalnya: klien yang didiagnosa mengidap kanker, maka ia akan mengunjungi beberapa dokter sebagai usaha klien menghindari diagnosa yang sebenarnya.

Tahap IV (Peran Klien Dependen)

o Pada tahap ini klien menerima keadaan sakitnya, sehingga klien bergantung pada pada pemberi pelayanan kesehatan untuk menghilangkan gejala yang ada.

o Klien menerima perawatan, simpati, atau perlindungan dari berbagai tuntutan dan stress hidupnya.

o Secara sosial klien diperbolehkan untuk bebas dari kewajiban dan tugas normalnya à semakin parah sakitnya, semakin bebas.

o Pada tahap ini klien juga harus menyesuaikanny dengan perubahan jadwal sehari-hari. Perubahan ini jelas akan mempengaruhi peran klien di tempat ia bekerja, rumah maupun masyarakat.

Tahap V (Pemulihan dan Rehabilitasi)

o Merupakan tahap akhir dari perilaku sakit, dan dapat terjadi secara tiba-tiba, misalnya penurunan demam.

o Penyembuhan yang tidak cepat, menyebabkan seorang klien butuh perawatan lebih lama sebelum kembali ke fungsi optimal, misalnya pada penyakit kronis.

Tidak semua klien melewati tahapan yang ada, dan tidak setiap klien melewatinya dengan kecepatan atau dengan sikap yang sama. Pemahaman terhadap tahapan perilaku sakit akan membantu perawat dalam mengidentifikasi perubahan-perubahan perilaku sakit klien dan bersama-sama klien membuat rencana perawatan yang efektif

Kepustakaan

Potter, Patricia, 2005, Buku Ajar Fundamental Keperawatan : konsep, proses, dan praktek/Patricia A. Potter, Anne Griffin Perry; Alih Bahasa, Yasmin Asih et al. Editor edisi Bahasa indonesia, Devi Yulianti, Monica Ester. – Ed.4. – Jakarta ; EGC, 2005

Ketika kita mendengar kata stress, terbayang sudah sesuatu hal yang menakutkan, serem, penderitaan, kesakitan dan banyak lagi terminologi yang digunakan orang. pokoknya sesuatu yang diluar jangkauan kemampuan kita untuk memikirkannya. Apakah harus seperti itu yang dikatakan stress?

Pada hal-hal tertentu bisa dikatakan “YA”, tapi tidak semua kondisi stress harus demikian. Orang yang mengalami stress berarti orang itu sedang kena masalah. Masalah disini artinya ia sedang memikirkan, menghadapi atau akan menemui sesuatu yang belum pernah dia alami sebelumnya. Masalah penyebab stress sering disebut dengan stressor dan itu bisa berasal dari pikiran seseorang, bisa berasal dari luar dirinya baik lingkungan ataupun hal-hal yang ada disekitar kita. Jadi, lebih mengarah pada hal-hal yang berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari.

Setelah memikirkan, menghadapi atau berpikir akan menghadapi hal-hal itu, mungkin orang akan menemukan cara penyelesaiannya atau mungkin juga ia berkata, “sudahlah, kenapa dipikirkan”. Ini dinamakan dengan koping. Jadi koping identik dengan cara yang digunakan orang untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Dengan koping masalah bisa teratasi, hilang atau hanya hilang sementara dari ingatannya yang kemungkinan akan muncul lagi kalau ada yang mencetuskannya, bahkan tidak hilang sama sekali sehingga orang akan jatuh pada kondisi dimana ia tidak bisa berbuat apapun atau berpikir tentang hal lain kecuali masalah itu. Ini yang berbahaya, karena berarti proses pikirnya telah terganggu, orang bisa mengalami gangguan kejiwaan.

Pada kondisi lain kita sering melihat, keluarga Bpk. A itu hidupnya pas-pasan, rumah kontrakan, untuk makan saja harus pinjam sana-pinjam sini. pokoknya secara umum mengatakan kehidupannya serba kekurangan. Akan tetapi keluarga itu adem-ayem saja, tidak pernah terdengar cek-cok dan ketika ditanya Bpk. A menjawab, “Hidup ini adalah perjuangan, tidak ada yang perlu disesalkan. Yang penting kita terus berusaha, menyesuaikan dengan kondisi, tidak putus asa dan mensyukuri ni’mat yang telah Diberikan. Ini menggambarkan bahwa keluarga itu telah adaptasi dengan kondisinya dan pada saat ini bisa dikatakan keluarga Bpk. A sehat secara psikologis. Akan tetapi bisa saja akan menjadi stress kalau masalah yang dihadapi lebih berat dan masih menggunakan cara pandang yang sama.

Kesimpulannya adalah setiap stress harus diselesaikan saat ini dan sekarang juga, gunakan koping yang baik serta adaptasilah dengan keadaan.

oleh : Suprianto

Makanan Pendamping ASI merupakan makanan yang diberikan kepada bayi disamping ASI untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Pada kenyataannya banyak para ibu yang memberikan Makanan Pendamping ASI pada bayinya pada usia < 6 bulan karena tidak mengerti bahwa pada usia < 6 bulan system pencernaan bayi belum sempurna untuk mengabsorbsi makanan.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengetahuan ibu tentang pemberian Makanan Pendamping ASI dini. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional secara cross sectional. Variabel penelitian adalah pengetahuan ibu yang mempunyai bayi usia 0 – 6 bulan tentang pemberian Makanan Pendamping ASI dini. Responden diambil dari ibu-ibu yang menimbangkan bayinya di Posyandu. Data dikumpulkan dengan kuesioner terstruktur dan dilakukan tabulasi silang.

Penelitian ini dilakukan di Desa Dermosari, Tugu, Trenggalek pada bulan Januari 2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang berpengetahuan baik sebanyak 60%. Pada usia < 20 tahun (100%) berpengetahuan kurang, pada tingkat pendidikan PT (100%) mempunyai pengetahuan baik, dan ibu yang bekerja (100%) berpengetahuan baik.

Petugas kesehatan diharapkan lebih meningkatkan penyuluhan kesehatan tentang pemberian Makanan Pendamping ASI

Langkah-langkah Merawat Bayi yang Rewel

oleh : Suprianto.

Mempunyai anak merupakan dambaan setiap keluarga. kenapa demikian? Di dalam budaya masyarakat kita, perkawinan dilakukan salah satu tujuan dan yang utama adalah mendapatkan keturunan. Banyak terjadi kasus perceraian dikarenakan tidak didapatkannya keturunan dalam perkawinannya.

Mempunyai anak selain mendatangkan kebahagiaan, juga menimbulkan masalah, terutama bagi perawatan anak pertama. Orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya, tetapi dia tidak mampu memahami bahasa bayi. Sering terjadi anak rewel, menangis dan semakin menangis orang tua malah menjadi bingung, terkadang saling menyalahkan antar orang tua, orang tua dengan pembantunya.

Bila balita rewel, menangis, beberapa langkah perawatan berikut bisa dilakukan :

  1. Anak rewel, menangis bisa karena popoknya basah. periksa apakah popoknya lembab, bila ia gantilah.
  2. Mungkin juga dia haus, coba tetekkan atau berikan susu botol, bila merespon berarti langkah Anda benar
  3. Kalau 2 hal itu tidak membuat bayi berhenti rewelnya, perhatikan tubuhnya mungkin ada luka gigitan nyamuk, terkena lipatan pakaian atau yang lainnya. Bila terdapat tanda kemerahan, segera lakukan perawatan, minimal berilah madu atau konsultasikan.
  4. Bila no. 1 sampai 3 tidak ditemukan, mungkin bayi kecapekan, di massage/siurut atau dibawa ke tukang pijat bayi bisa membantu. Bayi biasanya memerlukan pemijatan secara teratur untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat posisi tidurnya, maupun kesalahan saat mengangkatnya.
  5. Pada budaya masyarakat tertentu, bayi rewel juga bisa terjadi karena unsur kepercayaan yaitu ada “gangguan”. Bila semua upaya di atas tidak mengatasi masalah, langkah ini tidak ada salahnya Anda coba, dengan menghubungi ahlinya.

Selamat merawat bayi Anda, semoga bermanfaat. bila punya pengalaman lain, bisa ditambahkan pada tulisan ini.

oleh : Suprianto

PENGKAJIAN

Pengkajian eliminasi alvi meliputi mengumpulkan riwayat keperawatan, melakukan pemeriksaan fisik pada abdomen, rektum dan anus serta inspeksi feses. Perawat seharusnya juga mengkaji ulang beberapa data yang didapat dari pemeriksaan diagnostik yang relevan.

Riwayat Keperawatan

Riwayat keperawatan eliminasi fekal membantu perawat menentukan pola defekasi normal klien. Perawat mendapatkan suatu gambaran feses normal dan beberapa perubahan yang terjadi dan mengumpulkan informasi tentang beberapa masalah yang pernah terjadi berhubungan dengan eliminasi, adanya ostomy dan faktor-faktor yang mempengaruhi pola eliminasi. Sebagai contoh untuk mengumpulkan riwayat keperawatan, perhatikan Assesment review sebagai berikut :

Pola defekasi

q Kapan anda biasanya ingin BAB ?

q Apakah kebiasaan tersebut saat ini mengalami perubahan ?

Gambaran feses dan perubahan yang terjadi

q Apakah anda memperhatikan adanya perubahan warna, tekstur (keras, lemah, cair), permukaan, atau bau feses anda saat ini ?

Masalah eliminasi alvi

q Masalah apa yang anda rasakan sekarang (sejak beberapa hari yang lalu) berkaitan dengan BAB (konstipasi, diare, kembung, merembes / inkontinensia{tidak tuntas}) ?

q Kapan dan berapa sering hal tersebut terjadi ?

q Menurut anda kira-kira apa penyebabnya (makanan, minuman, latihan, emosi, obat-obatan, penyakit, operasi) ?

q Usaha apa yang anda lakukan untukmengatasinya dan bagaimana hasilnya ?

Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi

q Menggunakan alat bantu BAB. Apa yang anda lakukan untuk mempertahankan kebiasaan BAB normal ? Menggunakan bahan-bahan alami seperti makanan / minuman tertentu atau obat-obatan ?

q Diet. Makanan apa yang anda percaya mempengaruhi BAB ? Makanan apa yang biasa anda makan ? yang biasa anda hindari, berapa kali anda makan dalam sehari ?

q Cairan. Berapa banyak dan jenis minuman yang anda minum dalam sehari ? (misalnya 6 gelas air, 2 cangkir kopi)

q Aktivitas dan Latihan. Pola aktivitas / latihan harian apa yang biasa dilakukan ?

q Medikasi. Apakah anda minum obat yang dapat mempengaruhi sistem pencernaan (misalnya Fe, antibiotik) ?

q Stress. Apakah anda merasakan stress. Apakah dengan ini anda mengira berpengaruh pada pola BAB (defekasi) anda ? Bagaimana ?

Ada ostomi dan penanganannya

q Apa yang biasa anda lakukan terhadap kolostomy anda ?

q Jika ada masalah, apa yang anda lakukan ?

q Apakah anda memerlukan bantuan perawat untuk menangani kolostomy anda ? Bagaimana caranya ?

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik abdomen terkait dengan eliminasi alvi meliputi inspeksi, auskultasi, perkusi dan palpasi dikhususkan pada saluran intestinal. Auskultasi dikerjakan sebelum palpasi, sebab palpasi dapat merubah peristaltik. Pemeriksaan rektum dan anus meliputi inspeksi dan palpasi.

Inspeksi Feses

Observasi feses klien terhadap warna, konsistensi, bentuk permukaan, jumlah, bau dan adanya unsur-unsur abdomen. Perhatikan tabel berikut :

KARAKTERISTIK FESES NORMAL DAN ABNORMAL

Karakteristik

Normal

Abnormal

Kemungkinan penyebab

Warna

Dewasa : kecoklatan

Bayi : kekuningan

Pekat / putih

Adanya pigmen empedu (obstruksi empedu); pemeriksaan diagnostik menggunakan barium

Hitam / spt ter.

Obat (spt. Fe); PSPA (lambung, usus halus); diet tinggi buah merah dan sayur hijau tua (spt. Bayam)

Merah

PSPB (spt. Rektum), beberapa makanan spt bit.

Pucat

Malabsorbsi lemak; diet tinggi susu dan produk susu dan rendah daging.

Orange atau hijau

Infeksi usus

Konsistensi

Berbentuk, lunak, agak cair / lembek, basah.

Keras, kering

Dehidrasi, penurunan motilitas usus akibat kurangnya serat, kurang latihan, gangguan emosi dan laksantif abuse.

Diare

Peningkatan motilitas usus (mis. akibat iritasi kolon oleh bakteri).

Bentuk

Silinder (bentuk rektum) dgn Æ 2,5 cm u/ orang dewasa

Mengecil, bentuk pensil atau seperti benang

Kondisi obstruksi rektum

Jumlah

Tergantung diet (100 – 400 gr/hari)

Bau

Aromatik : dipenga-ruhi oleh makanan yang dimakan dan flora bakteri.

Tajam, pedas

Infeksi, perdarahan

Unsur pokok

Sejumlah kecil bagian kasar makanan yg tdk dicerna, potongan bak-teri yang mati, sel epitel, lemak, protein, unsur-unsur kering cairan pencernaan (pigmen empedu dll)

Pus

Mukus

Parasit

Darah

Lemak dalam jumlah besar

Benda asing

Infeksi bakteri

Konsidi peradangan

Perdarahan gastrointestinal

Malabsorbsi

Salah makan

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik saluran gastrointestinal meliputi tehnik visualisasi langsung / tidak langsung dan pemeriksaan laboratorium terhadap unsur-unsur yang tidak normal.

DIAGNOSA

Label diagnostik masalah eliminasi alvi menurut NANDA meliputi :

Inkontinensia alvi

Konstipasi

Resiko terjadi konstipasi

Konstipasi yang dirasakan

Diare

(aplikasi klinis dari diagnosa ini lihat pada pedoman diagnosa NANDA yang meliputi tujuan dan intervensi)

Masalah eliminasi alvi dapat mempengaruhi banyak area fungsi manusia dan dapat menjadi etiologi diagnosa NANDA yang lain, seperti :

v Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan

a. Diare berkepanjangan

b. Hilangnya cairan abnormal melalui ostomy

v Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan

a. Diare berkepanjangan

b. Inkontinensia alvi

v Harga diri rendah berhubungan dengan

a. Ostomy

b. Inkontinensia usus

c. Perlunya bantuan untuk toileting

v Defisit pengetahuan tentang bowel training, manajemen ostomy berhubungan dengan kurangnya pengalaman

v Ansietas berhubungan dengan

a. Hilangnya kontrol eliminasi alvi akibat ostomy

b. Respon lain terhadap ostomy

PERENCANAAN

Tujuan utama klien dengan masalah eliminasi alvi adalah untuk :

Mempertahankan atau mengembalikan pola eliminasi alvi normal

Mempertahankan atau mendapatkan kembali konsisteni feses normal

Mencegah resiko yang berhubungan dengan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, trauma kulit, distensi abdomen dan nyeri.

IMPLEMENTASI

Peningkatan Keteraturan Defekasi

Perawat dapat membantu klien memperbaiki keteraturan defekasi dengan

  1. Memberikan privacy kepada klien saat defekasi
  2. Mengatur waktu, menyediakan waktu untuk defeksi
  3. Memperhatikan nutrisi dan cairan, meliputi diit tinggi serat seperti sayuran, buah-buahan, nasi; mempertahankan minum 2 – 3 liter/hari
  4. Memberikan latihan / aktivitas rutin kepada klien
  5. Positioning

Privacy

Privacy selama defekasi sangat penting untuk kebanyakan orang. Perawat seharusnya menyediakan waktu sebanyak mungkin seperti kepada klien yang perlu menyendiri untuk defeksi. Pada beberapa klien yang mengalami kelemahan, perawat mungkin perlu menyediakan air atau alat kebersihan seperti tissue dan tetap berada dalam jangkauan pembicaraan dengan klien.

Waktu

Klien seharusnya dianjurkan untuk defeksi ketika merasa ingin defekasi. Untuk menegakkan keteraturan eliminasi alvi, klien dan perawat dapat berdiskusi ketika terjadi peristaltik normal dan menyediakan waktu untuk defekasi. Aktivitas lain seperti mandi dan ambulasi seharusnya tidak menyita waktu untuk defekasi.

Nutrisi dan Cairan

Untuk mengatur defekasi normal diperlukan diet, tergantung jenis feses klien yang terjadi, frekuensi defekasi dan jenis makanan yang dirasakan klien dapat membantu defekasi normal.

Untuk Konstipasi

Tingkatkan asupan cairan dan instruksikan klien untuk minum cairan hangat dan jus buah, juga masukkan serat dalam diet.

Untuk Diare

Anjurkan asupan cairan dan makanan lunak. Makan dalam porsi kecil dapat membantu karena lebih mudah diserap. Minuman terlalu panas / dingin seharusnya dihindari sebab merangkasang peristaltik. Makanan tinggi serat dan tinggi rempah dapat mencetuskan diare. Untuk manajemen diare, ajarkan klien sebagai berikut :

Minum minimal 8 gelas / hari untuk mencegah dehidrasi

Makan makanan yang mengandung Natrium dan Kalium. Sebagian besar makanan mengandung Na. Kalium ditemukan dalam daging, beberapa sayuran dan buah seperti tomat, nanas dan pisang.

Tingkatkan makanan yang mengandung serat yang mudah larut seperti pisang

Hindari alkohol dan minuman yang mengandung kafein

Batasi makanan yang mengandung serat tidak larut seperti buah mentah, sereal

Batasi makanan berlemak

Bersihkan dan keringkan daerah perianal sesudah BAB untuk mencegah iritasi

Jika mungkin hentikan obat yang menyebabkan diare

Jika diare telah berhenti, hidupkan kembali flora usus normal dengan minum produk-produk susu fermentasi.

Untuk Flatulensi

Batasi minuman berkarbinat, gunakan sedotan saat minum dan mengunyah gusi; untuk meningkatkan pencernaan udara. Hindari makanan yang menghasilkan gas, seperti kubis, buncis, bawang dan bunga kol.

Latihan

Latihan teratur membantu klien mengembangkan pola defekasi normal. Klien dengan kelemahan otot abdomen dan pelvis (yang mengganggu defekasi normal) mungkin dapat menguatkannya dengan mengikuti latihan isometrik sebagai berikut :

Dengan posisi supine, perketat otot sbdomen dengan mengejangkan, menahan selama 10 detik dan kemudian relax. Ulangi 5 – 10 kali sehari tergantung kekuatan klien.

Positioning

Meskipun posisi jongkong memberikan bantuan terbaik untuk defekasi. Posisi pada toilet adalah yang terbaik untuk sebagian besar orang. Untuk klien yang mengalami kesulitan untuk duduk dan bangun dari toilet, maka memerlukan alat bantu BAB seperti commode, bedpad yang jenis dan bentuknya disesuaikan dengan kondisi klien.

Obat-obatan

Obat-obatan yang termasuk kategori mempengaruhi eliminasi alvi adalah katarsis dan laxantive, antidiare dan antiflatulensi

Mengurangi flatulensi

Ada banyak cara untuk mengurangi / mengeluarkan flatus, meliputi menghindari makanan yang menghasilkan gas, latihan, bergerak di tempat tidur dan ambulasi. Gerakan merangsang peristaltik dan membantu melepaskan flatus dan reabsorbsi gas dalam kapiler intestinal. Satu metode untuk penanganan flatulensi adalah dengan memasukkan suatu rectal tube. Caranya adalah sebagai berikut :

1. Gunakan rectal tube ukuran 22 – 30 F untuk dewasa dan yanglebih kecil untuk anak

2. Tempatkan klien pada posisi miring

3. Berikan lubrikasi untuk mengurangi iritasi

4. Buka anus dan masukkan rectal tube dalam rektum (10 cm). Rectal tube akan merangsang peristaltik. Jika tidak ada flatus yang keluar, masukkan tube lebih dalam. Jangan menekan tube jika tidak bisa masuk dengan mudah.

5. Lepaskan tube jangan lebih dari 30 menit untuk menghindari iritasi. Jika terjadi distensi abdomen, masukkan tube setiap 2 – 3 jam.

6. Jika tube tidak dapat mengurangi flatus, konsul dengan dokter untuk pemakaian suppository, enema atau obat-obatan yang lain.

Pemberian Enema

Enema adalah larutan yang dimasukkan dalam rektum dan usus besar. Cara kerja enema adalah untuk mengembangkan usus dan kadang-kadang mengiritasi mukosa usus, meningkatkan peristaltik dan membantu mengeluarkan feses dan flatus.

Jenis enema :

1. Cleansing enema / huknah

Cleansing enema dimaksudkan untuk mengeluarkan feses. Tindakan ini utamanya diberikan untuk :

Mencegah keluarnya feses saat operasi

Persiapan pemeriksaan diagnostik tertentu pada usus

Mengeluarkan feses dari usus saat konstipasi / obstipasi

Cleansing enema menggunakan bermacam-macam larutan sebagai berikut :

Larutan

Unsur

Tindakan

Waktu

Efek samping

Hipertonis

90 – 120 cc (misal Sodium phosphate)

Menarik air dari ruang interstisiil ke dalam kolon, merangsang peristaltik, menyebabkan defekasi

5 – 10’

Retensi Sodium

Hipotonis

500 – 1000 cc air kran

Distensi abdomen, me-rangsang peristaltik, melunakkan feses

15 – 20’

Ketidakseimbangan cairan dan elek-trolit, intoksikasi air

Isotonis

500 – 1000 cc normal saline (NaCl 0.9 %)

Distensi abdomen, me-rangsang peristaltik, melunakkan feses

15 – 20’

Kemungkinan retensi Na.

Air sabun

500 – 1000 cc (3 – 5 cc sabun dalam 1000 cc air)

mengiritasi mukosa, distensi kolon

10 – 15’

Iritasi dan merusak mukosa

Minyak

90 – 120 cc

Lubrikasi feses dan mukosa kolon

½ – 3 jam

Cleansing enema juga dapat digambarkan tinggi dan rendah. Tinggi jika pembersihan dimungkinkan mencapai kolon. Klien berubah posisi dari lateral kiri ke dorsal recumbent dan kemudian lateral kanan selama pemberian enema, dengan posisi kontainer 30 – 46 cm dari klien. Rendah jika pembersihan hanya pada rektum dan sigmoid. Posisi klien dipertahankan lateral kiri selama pemberian enema dengan posisi kontainer tidak lebih dari 30 cm dari klien.

2. Carminative enema

Diberikan utamanya untuk mengeluarkan flatus. Cairan dimasukkan ke dalam rektum mengeluarkan gas yang menambah distensi pada rektum dan kolon, kemudian merangsang peristaltik. Untuk dewasa diperlukan cairan 60 – 80 cc.

3. Retention enema / klisma

Adalah memasukkan minyak atau obat ke dalam rektum dan kolon sigmoid. Cairan dipertahankan dalam waktu yang relatif lama (misalnya 1 – 3 jam), untuk melunakkan feses dan lubrikasi rektum dan anus yang membantu keluarnya feses. Antibiotik enema digunakan untuk menangani infeksi lokal, antihelmentic enema untuk membunuh cacing parasit, nutritive enema untuk memberikan cairan dan nutrien pada rektum.

4. Return-flow enema

Kadang-kadang digunakan untuk mengeluarkan flatus. Sekitar 100 – 200 cc cairan dimasukkan ke dalam rektuum dan kolon sigmoid yang akan merangsang peristaltik. Tindakan ini diulangi 4 – 5 x sampai flatus keluar dan distensi abdomen berkurang.


Pengeluaran Obstipasi secara Digital

Pengeluaran secara digital meliputi penghancuran massa feses secara digital dan mengeluarkan bagian-bagiannya. Adanya kemungkinan terjadinya trauma pada mukosa saluran pencernaan, tindakan ini harus diperhatikan dengan matang. Stimulasi rektum juga merupakan kontraindikasi pada beberapa klien karena dapat menyebabkan respon vagal berlebihan yang berdampak aritmia jantung. Sebelum penghancuran feses dianjurkan diberikan klisma glyserin dan dipertahankan selama 30 menit. Setelah prosedur ini perawat dapat menggunakan berbagai macam intervensi untuk mengeluarkan feses yang tersisa, seperti dengan cleansing enema atau dengan suppositoria.

Pengeluaran secara manual obstipasi dapat menimbulkan rasa nyeri, perawat dapat menggunakan 1 – 2 cc lidokain (xylocain) gel pada sarung tangan yang dimasukkan ke anus.

Program Bowel Training

Pada klien yang mengalami konstipasi kronik, sering terjadi obstipasi / inkontinensia feses, program bowel training dapat membantu mengatasinya. Program ini didasarkan pada faktor dalam kontrol klien dan didesain untuk membantu klien mendapatkan kembali defekasi normal. Program ini berkaitan dengan asupan cairan dan makanan, latihan dan kebiasaan defekasi. Sebelum mengawali program ini, klien harus memahaminya dan terlibat langsung. Secara garis besar program ini adalah sebagai berikut :

o Tentukan kebiasaan defekasi klien dan faktor yang membantu dan menghambat defekasi normal.

o Desain suatu rencana dengan klien yang meliputi :

a. Asupan cairan sekitar 2500 – 3000 cc/hari

b. Peningkatan diit tinggi serat

c. Asupan air hangat, khususnya sebelum waktu defekasi

d. Peningkatan aktivitas / latihan

o Pertahankan hal-hal berikut secara rutin harian selama 2 – 3 minggu :

a. Berikan suppository katarsis (seperti dulcolax) 30 menit sebelum waktu defekasi klien untuk merangsang defekasi.

b. Saat klien merasa ingin defekasi, bantu klien untuk pergi ke toilet / duduk di Commode atau bedpan. Catat lamanya waktu antara pemberian suppository dan keinginan defekasi.

c. Berikan klien privacy selama defekasi dan batasi waktunya, biasanya cukup 30 – 40 menit.

d. Ajarkan klien cara-cara meningkatkan tekanan pada kolon, tetapi hindari mengecan berlebihan, karena dapat mengakibatkan hemorrhoid.

o Berikan umpan balik positif kepada klien yang telah berhasil defekasi. Hindari negatif feedback jika klien gagal. Banyak klien memerlukan waktu dari minggu sampai bulan untuk mencapai keberhasilan

EVALUASI

Apakah asupan cairan dan diet klien sudah tepat ?

Apakah tingkat aktivitas klien sudah sesuai ?

Apakah klien dan keluarga memahami instruksi ?

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI

Oleh : Suprianto

Tujuan Pembelajaran :

Setelah mengikuti mata kuliah ini, peserta didik mampu :

Mengidentifikasi empat dimensi personal dan sosial tentang konsep diri

Menjelaskan kembali penjelasan Erikson tentang pengaruh tugas-tugas psikososial pada konsep diri dan harga diri

Menguraikan empat komponen konsep diri

Mengidentifikasi stressor umum dan strategi koping yang mempengaruhi konsep diri

Menguraikan aspek penting pengkajian hubungan peran

Mengidentifikasi diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan perubahan konsep diri

Menguraikan intervensi keperawatan yang disusun untuk mencapai identitas yang diharapkan dari klien dengan gangguan konsep diri

Menguraikan cara-cara untuk meningkatkan harga diri klien

Pendahuluan

Konsep diri adalah salah satu gambaran mental seseorang. Konsep diri yang positif adalah penting untuk kesehatan mental dan fisik seseorang. Individu dengan konsep diri yang positif akan mampu secara lebih baik mengembangkan dan mempertahankan hubungan interpersonal, melawan penyakit psikologis dan fisik. Individu yang memiliki konsep diri yang kuat seharusnya mempunyai kemampuan yang lebih untuk menerima atau beradaptasi dengan perubahan yang terjadi selama hidupnya.

Perawat bertanggung jawab tidak hanya untuk mengidentifikasi orang dengan konsep diri negatif, tetapi juga untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab konsep diri negatif, untuk membantu mengembangkan pandangan yang lebih positif dari dirinya. Individu yang mempunyai konsep diri yang jelek mungkin mengekspresikan perasaan tidak berharga, tidak menyukai dirinya sendiri atau bahkan membenci dirinya sendiri yang mungkin diarahkan pada orang lain. Individu dengan konsep diri jelek mungkin merasa sedih atau putus asa dan mungkin menyatakan tidak mempunyai kekuatan untuk menyelesaikan tugas sederhana.

Konsep Diri

Konsep diri meliputi semua persepsi diri terhadap ……………………..(1) , ………………… (2) dan ……………………..(3) yang mempengaruhi perilaku dan yang berhubungan dengan penggunaan kata “saya” atau “aku”. Konsep diri adalah ide kompleks yang mempengaruhi :

4.

5.

6.

7.

8.

Empat dimensi konsep diri adalah :

  1. Self-knowledge : …………………………….. ………………… ……….. ……….. ………. …. ……………………………………………………………………………………………………………………
  2. Self-expectation : …………………………….. ………………… ……….. ……….. ………. …. ……………………………………………………………………………………………………………………
  3. Social self : …………………………….. ………………… ……….. ……….. ………. …. …………. …………………………… …………………………………………………………………………….
  4. Social evaluation : …………………………….. ………………… ……….. ……….. ………. …. ……………………………………………………………………………………………………………………

Seseorang yang menilai “Bagaimana saya merasa sebagai saya” diatas “Bagaimana orang lain merasa sebagai saya” dapat disebut sebagai ………………… (13). Mereka berusaha keras untuk menikmati hidup pada pengharapan diri mereka sendiri dan dirinya dianggap paling sempurna. Berbeda pada yang betul-betul berfokus pada …….. …………. (14) , orang sangat membutuhkan persetujuan orang lain dan berusaha keras untuk menikmati hidup pada pengharapan orang lain, membandingkan, bersaing dan mengevaluasi diri mereka dalam hubungan dengan orang lain. Mereka cenderung tidak menghadapi kelemahan diri mereka, tidak mampu untuk menyatakan diri dan takut dihina. Oleh karena itu konsep diri yang positif adalah ……………. ………… (15) dan dibentuk dengan saran orang lain yang minimal.

Assessmen dan promosi konsep diri yang positif tidak terbatas pada tindakan perawat pada klien. Konsep diri sendiri seorang perawat juga penting. Perawat yang memahami perbedaan dimensi diri mereka akan lebih mampu untuk memahami kebutuhan, harapan, perasaan dan konflik pada pasiennya. Perawat yang merasa positif tentang dirinya akan lebih suka membantu klien memenuhi kebutuhannya.

Kesadaran diri berkenaan dengan hubungan antara persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri dan persepsi orang lain terhadap dirinya. Jadi, seorang perawat yang sangat sadar diri mempunyai persepsi yang sangat relevan. Menjadi lebih sadar adakah suatu proses yang membutuhkan waktu dan energi dan tidak pernah sempurna. Satu komponen penting dari proses sadar diri adalah ……………….. (16), yang berhubungan dengan kepercayaan, sikap, motivasi, kekuatan dan kelemahan diri sendiri (Eckroth-Bucher, 2001).

Perawat yang pemahaman dan kesadaran dirinya berkembang dengan baik, dapat menghormati dan menghindari menonjolkan dirinya sendiri di atas orang lain. Dalam peranan sebagai pemberi asuhan, kesadaran diri perawat adalah kemampuan untuk menangguhkan keputusan dan berfokus pada kebutuhan klien. Saat terjadi konflik, perawat dapat menganalisa reaksi ditimbulkan melalui introspeksi dan bertanya :

17. ………………………………………………………………………………………………………………………

18. ………………………………………………………………………………………………………………………

19. ………………………………………………………………………………………………………………………

PEMBENTUKAN KONSEP DIRI

Seseorang tidak terlahir dengan konsep diri. Konsep diri berkembang sebagai hasil dari …………………………………………..(20). Menurut Erikson (1963), sepanjang hidup orang dihadapkan pada tugas perkembangan yang secara teori berhubungan dengan 8 tahap psikososial. Keberhasilan seseorang menyelesaikan ……………. ………………. ..(21) ini besar pengaruhnya pada perkembangan konsep diri. Ketidakmampuan untuk mengatasi tugas perkembangan ini berakibat terjadinya masalah konsep diri pada waktu dan intensitas di kemudian hari.

Secara garis besar ada 3 tahap perkembangan konsep diri seseorang :

22. Bayi belajar bahwa ………. ……….. …………. …………. …………. ……………. ……… ………….

23. Anak-anak ………. ……….. …………. …………. …………. ……………. ……… ………….

24. Anak-anak dan orang dewasa …… …………. …………. ……………. ……… ………….

Perhatian orang terhadap konsep dirinya adalah pada bagaimana menerima dan mengevaluasi diri sendiri terhadap :

25. Prestasi kerja

26. ……………………………………………………………………………………………………………………

27. ……………………………………………………………………………………………………………………

28. ……………………………………………………………………………………………………………………

29. ……………………………………………………………………………………………………………………

30. ……………………………………………………………………………………………………………………

31. ……………………………………………………………………………………………………………………

32. ……………………………. …………………………… ………………………………. ……………………….

KOMPONEN KONSEP DIRI

Ada 4 komponen konsep diri yang meliputi identitas personal, gambaran diri, penampilan peran / prestasi dan harga diri.

Identitas Personal

Identitas personal seseorang adalah ……………………………. …………………………… ………………………………. ……………………….. (33) Orang sering memandang identitas dirinya dalam pengertian ………….. (34), ……… …………… (35), ………….. (36), …………..(37), ………….. (38)/ budaya, ………….. (39), bakat dan karakteristik situasi yang lainnya seperti status pekawinan dan tingkat pendidikan.

Identitas personal juga meliputi ………….. (40) dan …………..(41), ………….. (42) dan ………….. (43). Bagaimana dengan watak yang ramah, bersahabat, pendiam, dermawan dan egois ? Jadi identitas personal meliputi hal-hal yang nyata dan faktual seperti nama dan jenis kelamin; dan yang tidak nyata seperti nilai dan kepercayaan. Identitas adalah apa yang membedakan seseorang dengan orang lain.

Seseorang dengan identitas yang kuat mempunyai keutuhan gambaran diri, penampilan peran dan harga diri dalam konsep diri yang utuh. Pemahaman terhadap identitas ini mendorong kelangsungan dan keutuhan seseorang untuk menjadi dirinya sendiri sebagai seorang yang unik.

Gambaran diri

Gambaran diri secara fisik atau body image adalah ………….. ………….. ………….. ………….. ………….. …………… (44). Gambaran diri mencakup aspek kognitif dan afektif. Kognitif adalah …………..(45) tentang bagian-bagian tubuh dan struktur penunjang; afektif meliputi ………….. (46) seperti nyeri, menyenangkan, kelelahan dan gerakan tubuh. Gambaran diri adalah ringkasan dari sikap, kesadaran dan tidak yang seseorang rasakan terhadap tubuhnya.

Gambaran diri mencakup fungsi tubuh dan bagian-bagian tubuh, yang meliputi berpakaian, berdandan, gaya rambut, perhiasan dan benda-benda lain yang melekat pada tubuh seseorang. Gambaran diri juga meliputi prosthese tubuh seperti tangan, gigi, rambut palsu; alat bantu yang diperlukan agar tubuh berfungsi dengan baik sperti kursi roda, tongkat dan kaca mata.

Gambaran diri seseorang berkembang sebagian dari ………….. (47) dan ………….. (48) orang lain terhadap eksplorasi tubuhnya. Sebagai contoh, gambaran diri yang berkembang dalam diri anak-anak sebagai orang tua atau pengasuh merespon pada anak dengan tersenyum, memegang, menyentuh dan sebagai anak ia mengeksplorasi dirinya sendiri selama menyusui dan menghisap ibu jari. Kultur dan nilai-nilai sosial juga mempengaruhi gambaran diri seseorang.

Penampilan Peran (Role)

Selama perjalanan hidup orang mengalami sejumlah perubahan peran. Peran adalah ………….. ………….. ………….. ………….. ………….. ………….. ………….. (49). Penampilan peran berkenaan dengan apakah seseorang dalam peran tertentu ………….. ………….. ………….. ………….. ………….. ………….. (50). Penguasaan peran berarti bahwa ………….. ………….. (51) sesuai dengan harapan masyarakat. Harapan atau standar perilaku suatu peran, ditentukan oleh masyarakat, peradaban atau kelompok kecil tempat seseorang tinggal. Tiap-tiap orang biasanya mempunyai beberapa peran seperti sebagai suami, orang tua, saudara, anak, karyawan, teman dan anggota kelompok keagamaan. Beberapa peran diterima hanya untuk waktu tertentu, seperti sebagai klien, mahasiswa atau orang sakit. ………….. ………….. (53) melibatkan sosialisasi ke dalam peran tertentu. Sebagai contoh, mahasiswa keperawatan disosialisasikan ke dalam dunia perawat setelah mendapat pengarahan dari intruktor, pengalaman klinik, klasikan, praktek laboratorium dan seminar-seminar.

Untuk dapat melakukan peran secara tepat, seseorang perlu mengetahui siapa yang dihadapi dan apakah masyarakat mengharapkan posisi yang diembannya. Peran ………….. (54) terjadi ketika harapan tidak jelas dan orang tidak mengetahui apa yang dikerjakan atau bagaimana mengerjakannya dan tidak mampu untuk membayangkan reaksi orang lain terhadap perilakunya. Kegagalan seseorang menjalankan suatu peran menimbulkan frustasi dan perasaan tidak berguna, sering diikuti dengan harga diri rendah.

Konsep diri juga dipengaruhi oleh ketegangan peran dan konflik peran. Seseorang yang mengalami ………………….. (55) peran akan kecewa karena merasa atau dibuat merasa tidak mampu atau tidak pantas dengan peran itu. Ketegangan peran sering berkaitan dengan stereotipe peran menurun jenis kelamin. Sebagai contoh, wanita dalam pekerjaan tradisional yang dipegang oleh pria dianggap kurang mempunyai pengetahuan dan kompetensi dibanding pria dalam peran yang sama.

……………… …………. (56) timbul dari harapan yang tidak cocok / bertentangan. Dalam suatu konflik interpersonal, orang mempunyai perbedan harapan tentang suatu peran tertentu. Sebagai contoh, nenek mungkin mempunyai harapan yang berbeda dengan ibu tentang bagaimana ia seharusnya merawat anak-anaknya. Dalam suatu konflik antar-peran, harapan orang perorang atau kelompok berbeda dengan harapan orang atau kelompok yang lain. Sebagai contoh, seorang wanita yang mempunyai sedikit kemudahan dalam jadual kerja penuh waktu yang dijalankan mempunyai suatu konflik jika suaminya mengharapkan ia menyelesaikan semua perihal perawatan anaknya. Dalam suatu konflik peran personal, harapan peran mengganggu keyakinan atau nilai dari peran bekerja. Konflik peran dapat membawa kepada suatu ketegangan, menurunkan harga diri dan memalukan jika tidak diatasi.

Harga Diri

Harga diri adalah ………….. ………….. ………….. ………….. /………….. /……………………………………, ………….. ………….. ………….. ………….. ………….. (57) dibandingkan dengan orang lain dan ideal dirinya. Jika harga diri seseorang tidak sesuai dengan ideal dirinya, kemudian terjadilah konsep diri yang rendah.

Terdapat 2 jenis harga diri : ………….. (59) dan …………… (60) Harga diri global adalah seberapa besar seseorang menyukai dirinya sendiri secara utuh. Harga diri spesifik adalah seberapa besar seseorang mengenali bagian tertentu dari dirinya. Harga diri global dipengaruhi oleh harga diri spesifik. Sebagai contoh, seorang pria menilai tampannya akan berpengaruh kuat terhadap harga diri globalnya. Ini akan berbeda jika seorang laki-laki memberikan nilai kecil akan ketrampilannya dalam memasak, karena kepandaian atau tidak ia memasak mempunyai pengaruh minimal pada harga diri globalnya.

Harga diri diperoleh dari ………….. (61) dan ………….. (62). Pada masa bayi, harga diri berhubungan dengan penilaian dan dukungan pengasuhnya. Kemudian harga diri masa kanak-kanak dipengaruhi oleh persaingan dengan orang lain. Sebagai orang dewasa, seseorang yang mempunyai harga diri tinggi punya perasaan berarti, kecakapan dan kemampuan untuk mempertahankan hidup dan pengawasan yang melebihi takdirnya. Dasar dari harga diri ditegakkan selama pengalaman hidup awal, biasanya dalam struktur keluarga. Akan tetapi, harga diri yang melebihi tingkat fungsional orang dewasa dapat mengubah secara nyata dari hari ke hari dan peristiwa ke peristiwa. Harga diri fungsional adalah hasil dari evaluasi berkelanjutan orang terhadap interaksi dengan orang atau benda. Fungsi harga diri dapat melebihi harga diri dasar, atau dapat mundur ke tingkat yang lebih rendah dari harga diri dasar. Stress hebat sebagai contoh, stress berhubungan dengan penyakit atau mengganggur lama, dapat menurunkan harga diri seseorang secara berarti. Orang sering berfokus pada aspek negatif mereka dan hanya melihat sedikit aspek positifnya. Hal ini penting bahwa kekuatan dan kelemahan harus sama-sama diketahui.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSEP DIRI

Banyak faktor yang mempengaruhi konsep diri seseorang. Faktor utama adalah perkembangan, keluarga dan budaya, stressor, SDM, riwayat keberhasilan dan kegagalan dan penyakit.

(uraikan)

Perkembangan

Keluarga dan Budaya

Stressor

Resources

Riwayat Keberhasilan dan Kegagalan

Penyakit